Tolak Model Investasi Ekstraktif, PT Naganova Targetkan Kuta Jadi Kiblat Pariwisata Berbudaya di 2030
LOMBOK TENGAH,Minggu 31/05/2026,SkalaNTB Media.Com – Langkah berani diambil oleh PT Naganova dalam menancapkan taji investasinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Bertepatan dengan peresmian proyek pariwisata dan properti terintegrasi di Kuta, Lombok Tengah, perusahaan secara lantang mendeklarasikan penolakan terhadap model investasi "ekstraktif" yang dinilai hanya mengeruk keuntungan tanpa memikirkan keberlanjutan daerah.
Dipimpin langsung oleh sang pemilik (owner), Cysillia Chaniago, PT Naganova membawa misi besar dengan menetapkan target jangka panjang: menjadikan Kuta sebagai kiblat pariwisata berkelas dunia yang berakar kuat pada kebudayaan pada tahun 2030 mendatang. "Saya bukan orang Lombok lahir batin, tapi saya jatuh cinta pada Lombok. Saya lihat potensi Kuta luar biasa, namun saya juga melihat kegelisahan: hotel tumbuh cepat, tapi anak muda Kuta masih bingung dapat kerja yang layak. Karena itu PT Naganova hadir dengan misi berbeda—investasi yang memuliakan tuan rumah,” tegas Cysillia Chaniago dalam seremonial yang diiringi tabuhan Gong Sasak di Kuta, Lombok Tengah, Sabtu (30/5/2026).
Cysillia menjelaskan bahwa PT Naganova bergerak di atas prinsip “Profit with Purpose” (keuntungan yang membawa dampak sosial). Sebagai bentuk penolakan terhadap investasi ekstraktif yang kerap meminggirkan warga lokal, Naganova telah menyiapkan tiga pilar kontribusi nyata untuk Lombok Tengah:
1.Keadilan Lapangan Kerja: Menyerap 1.200 tenaga kerja konstruksi di tahap awal dengan kewajiban 70 persen di antaranya adalah putra-putri asli Lombok Tengah. Saat operasional penuh, proyek ini akan membuka lebih dari 800 lapangan kerja tetap.
2.Pemberdayaan Berkelanjutan: Mendirikan Naganova Hospitality Academy untuk melatih alumni SMK Pariwisata di Lombok agar siap menduduki posisi strategis di industri perhotelan.
3.Arsitektur Berwawasan Budaya: Mengalokasikan 40 persen lahan sebagai ruang terbuka hijau dan mengadopsi arsitektur rumah adat Sasak—seperti bentuk lumbung dan atap ijuk—yang dipadukan dengan gaya modern global. “Hotel boleh bintang lima, tapi jiwa kita harus Sasak.
Tamu dari Australia, Timur Tengah, Eropa datang ke Kuta karena mau lihat Lombok yang asli, bukan Jakarta versi pantai. Properti kami akan jadi jembatan itu,” ujar Cysillia. Menolak Menjadikan Anak Lokal sebagai "Penonton" Visi nasional yang dibawa PT Naganova ini menekankan pentingnya peningkatan kelas sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Cysillia secara terbuka menyatakan komitmennya agar posisi-posisi strategis di masa depan diisi oleh anak-anak daerah. “Jangan sampai anak Kuta hanya jadi tukang parkir di tanahnya sendiri. Saya mau 10 tahun dari sekarang, General Manager resort ini adalah anak Sekotong, executive chef-nya anak Praya, arsiteknya anak Mataram. Itu baru namanya keadilan pariwisata,” seru Cysillia yang disambut tepuk tangan riuh. Komitmen ini pun memicu respons positif dari para pengusaha dan jajaran pemerintah daerah di Kuta Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran PT Naganova diapresiasi karena dinilai datang tidak sekadar membawa modal finansial, melainkan juga membawa hati dan kepedulian tinggi terhadap masa depan Sumber Daya Manusia (SDM) Lombok.
Gayung bersambut, tokoh masyarakat setempat, Yogi Swara, mengungkapkan bahwa pendekatan humanis PT Naganova berhasil mengikis kekhawatiran yang selama ini menghantui warga terkait kehadiran investor besar. “Dulu kami takut investor. Tanah dibeli, orang lokal dipinggirkan. Dengan Bu Cysillia dan Naganova, kami lihat anak-anak kami dilatih, UMKM kami dilibatkan. Ini tamu yang berkah,” tutur Yogi.
Menuju Masterplan 2030 Sebagai bagian dari Masterplan 2030, PT Naganova dalam lima tahun ke depan tidak hanya berfokus pada akomodasi, melainkan juga akan memperluas ekspansi dengan membangun eco-resort, fasilitas sport tourism, hingga pusat ekonomi kreatif digital bagi generasi muda NTB. “Target saya 2030: kalau dunia bicara ‘pariwisata berkelas dunia tapi tetap berakar budaya’, mereka akan menunjuk Kuta Lombok Tengah. Dan kalau bicara pengusaha yang memuliakan tuan rumah, mereka akan sebut PT Naganova,” pungkas Cysillia optimistis.
Peresmian proyek flagship pertama Naganova di KEK Mandalika ini ditutup dengan khidmat melalui penampilan Tari Gandrung dan doa bersama—sebuah simbol restu bersama untuk investasi yang datang sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
Laporan : man Redaksi : SkalaNTB Media.Com