SATU BULAN TERGENANG, TAK SATU PUN LANGKAH PROVINSI MENYENTUH SELATAN JEROWARU
lJerowaru, 21 Februari 2026.
Banjir yang melanda Dusun Sunkun, Desa Ekas, serta kawasan Bedah Embung di Desa Sriwe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, hingga kini masih menyisakan luka yang dalam. Hampir satu bulan lamanya masyarakat hidup dalam genangan, kecemasan, dan ketidakpastian.
Rumah-rumah terendam. Aktivitas lumpuh. Lahan pertanian rusak. Sumber penghidupan terancam. Air yang tak kunjung surut bukan hanya merendam tanah, tetapi juga merendam harapan warga yang menanti perhatian.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, masyarakat mengaku belum melihat kehadiran ataupun langkah nyata dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Melalui Ketua Komunitas Pelayan Masyarakat, Irfan Muliadi, warga menyampaikan harapan sekaligus seruan terbuka kepada Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan jajaran pemerintah provinsi agar turun langsung ke lokasi bencana di wilayah selatan Jerowaru.
“Kami bukan meminta lebih. Kami hanya ingin dilihat, didengar, dan ditangani. Sudah hampir satu bulan, tetapi belum ada kunjungan maupun langkah nyata dari pemerintah provinsi,” tegas Irfan.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur telah membangun dapur umum yang berjalan selama satu minggu. Bantuan itu tentu disyukuri. Namun masyarakat bertanya dengan penuh kegelisahan, setelah dapur umum berakhir, lalu apa?
Perwakilan warga, Bu Hairuni yang juga bagian dari Komunitas Pelayan Masyarakat menyampaikan suara yang kini menjadi suara bersama.
“Kami masih tergenang. Setelah dapur umum ini selesai, bagaimana nasib kami? Apa solusi jangka panjangnya?” ujarnya penuh harap.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Jika situasi ini terus berlarut tanpa penanganan menyeluruh, masyarakat terdampak dikhawatirkan akan kehabisan sumber daya, kehilangan mata pencaharian, bahkan terpaksa berutang demi bertahan hidup.
Di bulan puasa ini, ketika sebagian orang dapat menikmati hidangan berbuka dengan nyaman, warga di selatan Jerowaru justru berbuka dalam kondisi rumah yang masih tergenang dan lahan pertanian yang rusak. Mereka tidak sedang memikirkan menu berbuka yang lezat. Mereka hanya berharap ada uluran tangan, ada perhatian, ada langkah nyata.
Ketua Komunitas Pelayan Masyarakat kembali menyampaikan pernyataan tegas.
“Turunlah melihat langsung keadaan kami. Jangan hanya menjangkau wilayah yang dekat dan mudah dijangkau. Kami juga bagian dari masyarakat Nusa Tenggara Barat. Kami berhak atas perhatian dan kehadiran pemimpin kami di tengah musibah yang kami hadapi.”
Jerowaru bukan wilayah yang jauh dari peta pemerintahan. Ia hanya terasa jauh jika tidak ingin didekati.
Kini masyarakat menunggu bukan sekadar bantuan sementara melainkan solusi nyata, kebijakan konkret, dan kehadiran kepemimpinan yang memberi rasa aman di tengah bencana yang belum usai.( IM )