Lombok Timur March 10, 2026

Raden Nune Syahroni Tegaskan Nuzulul Quran sebagai Tradisi dan Fondasi Nilai Sasak

SUANDI YUSUP
SUANDI YUSUP
Admin 2 min read
Raden Nune Syahroni Tegaskan Nuzulul Quran sebagai Tradisi dan Fondasi Nilai Sasak
Raden Nune Syahroni Tegaskan Nuzulul Quran sebagai Tradisi dan Fondasi Nilai Sasak

Lombok Timur – Ketua Umum Pemuda Sasak Indonesia, Raden Nune Syahroni, menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar agenda keagamaan formal, melainkan tradisi masyarakat Sasak yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

Dalam Pengajian Nuzulul Qur’an dan Ngaji Budaya Sasak di Masjid Nurul Jihad, Selasa (9/3/2026), Raden Nune menyampaikan bahwa tradisi memperingati turunnya Al-Qur’an merupakan bagian integral dari sistem nilai masyarakat Sasak.

“Peringatan Nuzulul Qur’an adalah tradisi masyarakat kita yang sudah turun-temurun. Ini bukan sesuatu yang baru, melainkan warisan nilai yang terus hidup dalam praktik sosial dan budaya kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam khazanah kearifan lokal, peringatan tersebut termasuk dalam konsep Pance Awik Pinajaran Sasak (lima aturan pengajaran Sasak), khususnya pada prinsip Adat Luir Game—adat yang bersendikan agama.

Menurutnya, Adat Luir Game merupakan prosesi adat yang secara lahiriah berbentuk tradisi, namun di dalamnya mengandung nilai-nilai agama. Dengan demikian, adat tidak berdiri di luar ajaran Islam, melainkan menjadi medium pengamalan dan penguatan nilai-nilai syariat dalam kehidupan masyarakat.

“Adat dan agama tidak bisa dipisahkan. Keduanya berakar pada satu sumber yang sama, yakni bersendikan Kitabullah. Inilah fondasi yang membentuk karakter dan jati diri masyarakat Sasak,” tegasnya.

Raden Nune juga mengingatkan bahwa generasi muda Sasak harus mampu membaca tradisi secara substansial, bukan hanya seremonial. Peringatan Nuzulul Qur’an, kata dia, harus menjadi momentum membangun kesadaran kolektif untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sekaligus menjaga kesinambungan adat yang berlandaskan syariat.

“Nuzulul Qur’an harus melahirkan generasi yang berpikir modern ke depan tanpa kehilangan akar religius dan kulturalnya. Modern dalam gagasan, tetapi tetap kokoh dalam iman dan adat,” pungkasnya.

Melalui pendekatan ngaji budaya Sasak, ia berharap harmoni antara agama dan tradisi terus diperkuat sebagai fondasi masa depan generasi Sasak—bahwa adat bertiangkan agama, agama bersendikan syara’, dan syara’ bersumber pada Kitabullah.

share Bagikan Artikel

WhatsApp Facebook Post
Link berhasil disalin!

Komentar (0)

Comments are coming soon...