Kabar Wafatnya Pimpinan Tertinggi Iran
Kabar wafatnya Ali Khamenei, jika itu benar terjadi bukan sekadar berita politik luar negeri. Ia seperti gempa yang pusatnya jauh, tetapi getarannya bisa terasa sampai ke negeri ini. Di ruang-ruang kekuasaan mungkin ada yang merasa menang. Namun dalam kenyataan dunia yang saling terhubung, tak ada kemenangan yang benar-benar tenang. Setiap langkah selalu membawa akibat.
Selama ini, di tengah kerasnya konflik Timur Tengah, Khamenei dipandang sebagai sosok penentu arah. Ia bisa menahan, mengatur, dan memperlambat laju ketegangan. Jika penahan itu hilang, keseimbangan pun goyah. Yang muncul bukan kepastian, melainkan ketidakpastian.
Tetapi dari semua kemungkinan dampak besar itu, bagi Indonesia ada satu titik yang paling rawan, energi dan harga kebutuhan hidup.
Selat Hormuz adalah jalur penting minyak dunia. Jika kawasan itu terganggu, harga minyak bisa melonjak dalam waktu singkat. Ketika harga minyak naik, harga BBM ikut terdorong. Ongkos angkut naik. Biaya produksi meningkat. Ujungnya, harga beras, telur, dan kebutuhan pokok lainnya ikut merambat naik.
Di situlah rakyat kecil merasakan dampaknya. Dapur menjadi tempat pertama yang merasakan gejolak dunia. Jika tekanan ekonomi berlangsung lama, daya beli menurun, usaha melambat, lapangan kerja terancam. Ketegangan sosial pun bisa muncul.
Karena itu, kelemahan terbesar Indonesia bukan pada jarak geografis dari konflik, melainkan pada ketahanan dalam negeri. Kekuatan kita ada pada cadangan energi yang cukup, pengelolaan anggaran yang bijak, serta perlindungan bagi masyarakat kecil.
Dunia boleh bergejolak, tetapi yang harus tetap kokoh adalah keseimbangan di rumah sendiri. Sebab dalam dunia yang saling terhubung ini, satu peristiwa di negeri jauh bisa bergaung hingga ke pasar-pasar kita. Dan di sanalah ujian sebenarnya, bukan tentang siapa yang paling kuat menyerang, melainkan siapa yang paling siap bertahan.