Kesehatan May 29, 2026

Digitalisasi atau Diskriminasi? Sistem Antrean RSJ Mutiara Sukma NTB Dinilai Menjepit Masyarakat Miskin yang 'Buta Online

Heri S.
Heri S.
Admin 3 min read
Digitalisasi atau Diskriminasi? Sistem Antrean RSJ Mutiara Sukma NTB Dinilai Menjepit Masyarakat Miskin yang 'Buta Online
Digitalisasi atau Diskriminasi? Sistem Antrean RSJ Mutiara Sukma NTB Dinilai Menjepit Masyarakat Miskin yang 'Buta Online

MATARAM,Jum'at 29 Mei 2026, SkalaNTB Media.Com–

Transformasi digital di sektor pelayanan publik sejatinya bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat urusan masyarakat. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang ironis. Mekanisme pendaftaran layanan kesehatan berbasis online di daerah kini perlahan berubah menjadi tembok pembatas baru yang membuat masyarakat kelas bawah semakin terpinggirkan dan tertindih.

Sorotan tajam kali ini tertuju pada sistem pelayanan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan bukti dokumentasi foto yang di ambil 29/05 pukul 08:23 Wita, terlihat jelas adanya ketimpangan nyata pada layar monitor informasi antrean publik. Di loket pelayanan, kuota untuk antrean Resiko (tercatat di layar berada pada nomor antrean 32, untuk Antrean Online terlihat di Angka 53) berjalan jauh lebih dominan, sementara antrean untuk masyarakat umum/manual di sebut Donline yang mendaftar langsung di tempat justru melambat tetap di angka 001 hingga Jam 09:00 Wita.

Bagi sebagian warga yang melek teknologi, sistem digital ini mungkin sebuah kemudahan. Namun, bagi mayoritas pasien RSJ Mutiara Sukma yang berasal dari kalangan masyarakat miskin pedesaan, lansia, serta keluarga pasien dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak memiliki akses terhadap gawai pintar atau kuota internet, sistem ini tak ubahnya sebuah penolakan halus.

Yang Lemah Semakin Tertindih Sistem yang seolah "tidak peduli" terhadap pasien non-online ini memaksa warga dari berbagai pelosok kabupaten di NTB untuk datang subuh-subuh demi mengantre nomor pendaftaran manual yang jumlahnya sangat terbatas.

Akibat dari mekanisme ini, warga yang tidak mendaftar online harus menghadapi ketidakpastian yang melelahkan: menunggu berjam-jam di ruang tunggu tanpa jaminan akan mendapatkan giliran pelayanan dokter, atau terpaksa pulang dengan tangan hampa membawa kembali anggota keluarga mereka yang sedang sakit dalam kondisi psikis yang tidak stabil.

Disparitas Nyata di Depan Loket RSJ Mutiara Sukma Kesenjangan sosial di depan loket RSJ Mutiara Sukma NTB ini menjadi potret nyata bagaimana digitalisasi dipaksakan tanpa melihat kesiapan kultur masyarakat bawah. Ketika jalur antrean online berjalan mulus karena prioritas sistem, loket untuk masyarakat manual justru dipenuhi raut wajah cemas dan kelelahan dari warga yang tidak paham cara mengoperasikan aplikasi pendaftaran.

Pihak manajemen rumah sakit daerah dinilai terlalu fokus pada pemenuhan target indikator "modernisasi" dan formalitas berbasis aplikasi, ketimbang memprioritaskan esensi utama dari pelayanan kesehatan, yaitu kemanusiaan, keadilan sosial, dan kemudahan akses bagi kelompok masyarakat rentan.

Pernyataan Sikap dan Tuntutan: Merespons situasi yang kian menjepit hak-hak masyarakat lemah ini, kami menyatakan sikap dan menuntut pihak Manajemen RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB serta Dinas Kesehatan Provinsi NTB untuk:

Mengevaluasi Total Sistem Kuota Pendaftaran: Menuntut pembagian kuota yang adil, seimbang, dan berpihak pada kearifan lokal (minimal memberikan porsi lebih besar bagi pendaftar langsung/walk-in) mengingat karakteristik pasien daerah yang mayoritas belum melek digital.

Mengutamakan Kemanusiaan di atas Prosedur Digital: Menegaskan bahwa pelayanan kesehatan jiwa adalah pelayanan yang sensitif dan krusial. Tidak boleh ada pasien—terutama kategori rentan dan darurat—yang ditolak atau diulur pelayanannya hanya karena kendala sistem pendaftaran online.

Kesehatan adalah hak dasar segala bangsa yang dijamin konstitusi, dan hak tersebut tidak boleh dipersulit oleh sekadar aplikasi. Jangan biarkan digitalisasi di NTB membunuh rasa kemanusiaan dan membiarkan masyarakat miskin semakin tertindih di rumah sakit milik pemerintah mereka sendiri.

Laporan : Man Redaksi : SkalaNTB Media.Com

share Bagikan Artikel

WhatsApp Facebook Post
Link berhasil disalin!

Komentar (0)

Comments are coming soon...