Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur Tegaskan Sikap: Mitra atau Perlawanan
Lombok Timur, 24 Mei 2026_Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur menegaskan komitmennya untuk tetap berdiri sebagai kekuatan moral dan sosial yang independen dalam mengawal kebijakan publik, pembangunan daerah, serta perjalanan demokrasi yang berpihak kepada rakyat.
Dalam dinamika pembangunan daerah menuju Lotim SMART, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus penyambung suara masyarakat. Kehadiran gerakan mahasiswa bukan untuk menciptakan permusuhan terhadap kekuasaan, melainkan memastikan setiap kebijakan tetap berorientasi pada keadilan sosial, kepentingan rakyat, dan masa depan generasi muda.
PJ Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur, Suparman, menyampaikan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis hanya karena kedekatan dengan kekuasaan. Menurutnya, mahasiswa harus tetap menjaga independensi dan keberanian dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
“Mahasiswa hadir bukan sebagai alat legitimasi kekuasaan, melainkan sebagai penjaga nurani publik. Ketika pemerintah berpihak kepada rakyat, membuka ruang dialog, dan menghadirkan kebijakan yang adil, maka mahasiswa siap menjadi mitra strategis pembangunan. Namun ketika suara rakyat diabaikan dan kritik dibungkam, maka perlawanan menjadi sikap moral yang tidak bisa dinegosiasikan,” tegas Suparman.
Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur juga menilai bahwa pemikiran Antonio Gramsci tentang “intelektual organik” masih relevan dalam kondisi hari ini. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kesadaran kritis dan membela kepentingan masyarakat ketika kekuasaan mulai menjauh dari kebutuhan rakyat.
Selain itu, gagasan Paulo Freire mengenai pendidikan kritis menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh hanya melahirkan generasi yang tunduk terhadap sistem, tetapi harus melahirkan keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan dan memperjuangkan perubahan sosial.
Semangat perjuangan pemuda juga tercermin dari pernyataan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.”
Pernyataan tersebut menjadi simbol bahwa pemuda dan mahasiswa merupakan motor perubahan yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga arah demokrasi dan keadilan sosial di tengah masyarakat.
Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur menegaskan bahwa kemitraan dan perlawanan sejatinya adalah dua strategi dalam satu tujuan besar, yakni memperjuangkan kepentingan rakyat, menghadirkan keadilan sosial, dan menjaga masa depan bangsa.
“Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian kaum muda yang memilih berdiri bersama rakyat,” tutup Suparman.