Protes Kreatif Berbalut Pahlawan: Nakes Loteng Tuntut Keadilan Gaji
PRAYA, 22 April 2026 – SkalaNTB Media – Suara perjuangan Tenaga Kesehatan (Nakes) di Kabupaten Lombok Tengah kembali bergema dengan cara yang tak terduga. Mereka menggelar aksi protes unik dengan mengenakan kostum pahlawan Ultraman, mengibarkan tuntutan kesejahteraan yang selama ini terabaikan. Aksi ini menjadi wujud kekecewaan mendalam terhadap kebijakan Pemerintah Daerah yang dinilai meremehkan peran strategis para penyelamat nyawa.
Inti dari perjuangan ini adalah ketimpangan kesejahteraan yang mencolok. Nakes paruh waktu yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan dasar hanya menerima gaji pokok sebesar Rp200.000 per bulan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Angka ini jauh dari kata layak, bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Melalui spanduk yang dibawa, para peserta aksi menegaskan: "Gaji Dasar Rp200 Ribu Jauh dari Kata Layak". Mereka menolak narasi Pemerintah Daerah yang berdalih penghasilan tambahan dari dana insentif Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Dana Kapitasi BPJS Kesehatan sudah cukup memadai. Seperti yang disampaikan Wakil Ketua Perhimpunan Nakes Bangkit, L. Satria Wijaya, insentif bersifat tidak pasti dan sangat kecil dibandingkan beban kerja yang dipikul. Klaim dana insentif Rp300.000 bahkan dinilai tidak benar, karena di lapangan hanya diterima sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kegiatan.
Desakan Tegas Kepada Pimpinan Daerah
Kekecewaan Nakes tidak hanya tertuju pada kebijakan penggajian, tetapi juga pada sikap Kepala Dinas Kesehatan yang dinilai tidak berpihak. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut Pencopotan Kepala Dinas Kesehatan dengan alasan pejabat tersebut gagal memperjuangkan nasib bawahannya dan justru menyebarkan data yang tidak akurat. "Insentif Bukan Kepastian" menjadi pesan tegas bahwa kesejahteraan tidak boleh bergantung pada dana sampingan yang tidak menentu.
Dokumen rapat yang terungkap semakin memperkuat bukti kesewenang-wenangan. Terdapat ancaman penurunan gaji drastis hingga pemotongan tunjangan kinerja bagi Nakes yang berani menyuarakan pendapat. Praktik pengintimidasi ini dinilai sebagai upaya membungkam aspirasi kelompok pekerja yang seharusnya dilindungi undang-undang.
Harapan di Balik Simbolisme Ultraman
Pemilihan kostum Ultraman dalam aksi ini bukan tanpa makna. Bagi para Nakes, mereka adalah pahlawan sesungguhnya yang berjuang melawan penyakit demi keselamatan masyarakat. Namun ironisnya, nasib mereka sendiri tidak mendapatkan perlindungan yang layak dari negara. Melalui simbolisme ini, mereka ingin menyampaikan pesan: "Kami melindungi rakyat, tapi siapa yang melindungi hak kami?"
Perjuangan Nakes Lombok Tengah menjadi cerminan masalah sistemik di sektor kesehatan Indonesia. Di satu sisi negara terus menggelorakan pentingnya pelayanan kesehatan berkualitas, namun di sisi lain kesejahteraan tenaga pelaksananya diabaikan. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah diharapkan segera membuka ruang dialog yang konstruktif, mengevaluasi struktur penggajian, dan menjamin hak-hak dasar para pahlawan kemanusiaan. Kesejahteraan Nakes adalah kunci utama terwujudnya kesehatan masyarakat yang berkeadilan.