*Mengabaikan Hinaan Demi Rakyat, Haerul Warisin Curahkan Energi Perjuangkan PPPK Paruh Waktu Menjadi Penuh Waktu*
Lombok Timur – Di tengah derasnya dinamika media sosial yang diwarnai komentar-komentar bernada menyerang pribadi, Bupati Lombok Timur Drs. H. Haerul Warisin, M.Si. memilih mengambil jalan yang berbeda. Alih-alih larut dalam polemik, orang nomor satu di Gumi Patuh Karya itu tetap memusatkan perhatian pada tugas pemerintahan dan berbagai program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Barisan Pemuda Nusantara Kabupaten Lombok Timur, Saparwadi. Menurutnya, keputusan Bupati untuk mengabaikan hinaan dan tetap bekerja merupakan cerminan kepemimpinan yang matang, berintegritas, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
"Kami menyampaikan penghormatan dan terima kasih kepada Bapak Bupati Haerul Warisin. Ketika ada pihak yang memilih menyerang pribadi beliau, Bapak Bupati justru memilih tetap bekerja. Beliau tidak membalas dengan kata-kata, tetapi menjawabnya dengan pengabdian. Itulah karakter seorang pemimpin yang memahami bahwa amanah rakyat jauh lebih penting daripada melayani polemik yang tidak membawa manfaat," ujar Saparwadi, Selasa.
Menurut Saparwadi, masyarakat Lombok Timur hari ini membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi, bukan pemimpin yang sibuk memperpanjang perdebatan di ruang digital. Karena itu, sikap Haerul Warisin yang tetap fokus menjalankan program pembangunan merupakan teladan yang patut diapresiasi.
Ia menilai, salah satu bukti nyata keberpihakan Bupati kepada masyarakat adalah komitmennya memperjuangkan ribuan PPPK Paruh Waktu agar memperoleh kesempatan diangkat menjadi PPPK Penuh Waktu.
"Di saat sebagian orang sibuk menghina, Bapak Bupati justru sedang memikirkan masa depan ribuan tenaga honorer yang selama ini mengabdi dalam ketidakpastian. Beliau memilih menghabiskan energi untuk memperjuangkan hak masyarakat, bukan membalas komentar yang tidak produktif. Inilah yang disebut kepemimpinan yang bekerja dengan hati," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Lombok Timur, Drs. H. Haerul Warisin, M.Si., menegaskan bahwa fokus pemerintah daerah saat ini adalah memastikan seluruh program unggulan berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu prioritas yang terus diperjuangkan adalah penyelesaian status PPPK Paruh Waktu melalui komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Haerul Warisin, perjuangan tersebut bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai kepala daerah. Lebih dari itu, perjuangan itu lahir dari pengalaman hidup yang pernah ia rasakan sendiri.
"Saya pernah menjadi tenaga honorer. Saya tahu bagaimana rasanya bekerja dengan penuh tanggung jawab, tetapi hidup dalam ketidakpastian. Karena itulah saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan mereka. Jalannya memang tidak mudah. Regulasi harus dipatuhi dan kemampuan fiskal negara menjadi tantangan. Namun selama masih ada ruang untuk berikhtiar, kami tidak akan berhenti memperjuangkan hak mereka," ujar Haerul Warisin.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi ribuan PPPK Paruh Waktu hingga memperoleh kepastian yang lebih baik.
"Selama saya memimpin, perjuangan kalian adalah perjuangan saya. Saya tidak pernah melupakan dari mana saya berasal. Saya pernah berada di posisi yang sama. Karena itu saya akan terus berupaya membuka setiap ruang yang memungkinkan agar PPPK Paruh Waktu memperoleh kesempatan menjadi PPPK Penuh Waktu sesuai kebijakan pemerintah," katanya.
Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, sikap Haerul Warisin dinilai menjadi pesan bahwa kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan dengan membalas setiap kritik atau hinaan. Seorang pemimpin justru akan dikenang melalui keteguhan menjaga amanah, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan memperjuangkan harapan masyarakat. Bagi ribuan PPPK Paruh Waktu di Lombok Timur, perjuangan itu menjadi secercah harapan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam, tetapi terus berikhtiar mengawal masa depan mereka.