Lansia di Desa Pandanwangi Ini Terbaring Lemas, Harapkan Perhatian Pemerintah dan Kepedulian Bersama
Jerowaru, 13 Maret 2026_ Di sebuah rumah sederhana di Dusun Tumpuk atau Batu Bawi Timur, Desa Pandanwangi, Kecamatan Jerowaru, seorang perempuan lanjut usia bernama Minah menjalani hari-harinya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Di usia senjanya, ketika seseorang seharusnya merasakan ketenangan dan perhatian, Minah justru terbaring lemah, menahan sakit dan keterbatasan di rumah saudaranya yang selama ini menjadi tempatnya berteduh.
Tubuhnya semakin renta, tenaganya kian menipis. Hari-hari yang dijalaninya kini lebih banyak dihabiskan di atas pembaringan, dengan harapan sederhana, ada perhatian, ada kepedulian, ada tangan-tangan yang datang membantu di masa sulitnya.
Kondisi Minah pertama kali mendapat perhatian setelah salah satu perwakilan Komunitas Pelayan Masyarakat Desa Pandanwangi, Bahrain Sub Habibie, turun langsung melihat keadaan beliau. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan, tetapi juga bentuk kepedulian untuk memastikan kondisi sebenarnya serta melakukan asesmen awal terkait kebutuhan yang perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang.
Dari hasil pemantauan tersebut, kondisi Minah dinilai membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi pelayanan kesehatan maupun bantuan sosial. Yang lebih memprihatinkan, berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, Minah diketahui belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), sehingga akses terhadap berbagai layanan bantuan pemerintah menjadi sangat terbatas.
Ketua Komunitas Pelayanan Masyarakat, Irfan Muliadi, menyampaikan harapan agar kondisi ini tidak luput dari perhatian pemerintah daerah dan instansi terkait.
“Ini bukan sekadar tentang satu orang lansia yang sedang sakit. Ini tentang bagaimana negara hadir untuk warganya yang paling lemah. Kami sangat berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur, dapat turun langsung melihat kondisi ibu Minah, melakukan observasi, dan memberikan penanganan yang layak,” ungkap Irfan.
Ia juga berharap kepada pemerintah desa serta pihak yang menangani administrasi kependudukan agar segera membantu menyelesaikan dokumen kependudukan milik Minah, sehingga beliau dapat terdata secara resmi dan memperoleh hak-haknya sebagai warga negara.
Kisah Minah menjadi pengingat yang sunyi namun dalam bagi para pemimpin dan pemangku kebijakan, bahwa di balik berbagai program pembangunan, masih ada warga yang menanti sentuhan nyata dari kepedulian negara.
Di rumah sederhana itu, Minah mungkin tidak meminta banyak. Namun di usianya yang renta, perhatian, kehadiran, dan kepedulian adalah harapan yang begitu berarti.
Semoga kisah ini sampai ke hati para pemimpin, agar langkah-langkah kebaikan segera datang mengetuk pintu rumah kecil tempat Minah menunggu dengan sabar, dengan harap, dan dengan keyakinan bahwa masih ada yang peduli.