Brown Bag Meeting HATCH Perkuat Ekonomi Regeneratif dan Konservasi Pesisir Berbasis Masyarakat di Teluk Jor
Lombok Timur, 2 September 2026_Penguatan ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian ekosistem pesisir menjadi perhatian utama dalam Brown Bag Meeting HATCH (Harnessing Adaptive Conservation Through Social Enterprise and Learning Hub) yang digelar, Rabu (2/9/2026), di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pesisir Lestari (YPL) melalui HATCH Learning Hub, dengan dukungan COAST Facility Indonesia dan Pemerintah Inggris, menghadirkan Brown Bag Meeting HATCH sebagai ruang pembelajaran, berbagi pengalaman, dan memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Forum ini dirancang untuk dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan hingga tahun 2027. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, sektor swasta, hingga akademisi. Melalui pertemuan ini, setiap pihak diharapkan dapat saling bertukar pengetahuan, gagasan, dan praktik baik dalam mendorong pengelolaan pesisir yang berkelanjutan serta memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Forum tersebut menjadi ruang belajar yang komunikatif, adaptif, dan kolektif dengan menempatkan masyarakat sebagai pemilik sekaligus aktor utama pembangunan. Sementara itu, para mitra lintas sektor berperan sebagai katalisator untuk merespons, memperkuat, dan mengembangkan berbagai inisiatif masyarakat pesisir di kawasan Teluk Jor.
Dalam forum tersebut, Yayasan Pesisir Lestari (YPL) menekankan pentingnya mendokumentasikan capaian, pengalaman, inovasi, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengelola potensi pesisir.
Pengalaman masyarakat tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi pembelajaran bersama sekaligus masukan dalam memperkuat kebijakan dan program pembangunan yang berpihak kepada masyarakat pesisir.
Melalui sesi “Stories of Change: Voices from Teluk Jor”, masyarakat diberikan ruang untuk menyampaikan secara langsung cerita perubahan yang telah mereka lakukan, mulai dari konservasi mangrove, pengembangan produk perikanan, penguatan ekonomi lokal, hingga berbagai inisiatif perlindungan lingkungan berbasis masyarakat.
Forum kemudian dilanjutkan dengan sesi “Connecting Community Experience with Policy & Science”, yang mempertemukan pengalaman masyarakat dengan perspektif kebijakan, ilmu pengetahuan, penelitian, dan pembangunan.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Mastur, S.P., M.Si., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menilai kegiatan yang dilakukan YPL merupakan langkah positif karena mampu melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, dan kelompok masyarakat lainnya.
Menurutnya, YPL memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan dan pemberdayaan masyarakat pesisir di kawasan Teluk Jor. Namun, upaya tersebut membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendamping, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Dengan sinergi dan kebersamaan, potensi pesisir Teluk Jor dapat dikembangkan menjadi sumber kesejahteraan dan kemajuan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Meri Ramdani, peserta sekaligus perwakilan Pokdarwis Teluk Jor, menegaskan bahwa kawasan Teluk Jor memiliki potensi wisata yang sangat besar.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dikembangkan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan dengan tetap menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
Ia berharap pengembangan Teluk Jor ke depan dapat didukung dengan akses yang lebih baik, fasilitas wisata yang memadai, tempat singgah, serta akomodasi atau penginapan.
“Teluk Jor memiliki potensi yang luar biasa. Harapan kami, potensi ini dapat ditata dan dikembangkan secara berkelanjutan, mulai dari akses, fasilitas wisata, tempat singgah hingga penginapan, sehingga wisatawan dapat tinggal lebih lama dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi,” ujar Meri.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak semata-mata mengejar peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga harus memastikan masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Brown Bag Meeting HATCH menjadi momentum untuk memperkuat pandangan bahwa Teluk Jor bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup masyarakat yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi.
Karena itu, pengembangan kawasan membutuhkan keseimbangan antara konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, serta pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi yang dibangun dalam forum tersebut, berbagai pengalaman dan capaian masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat, dikembangkan, direplikasi, dan menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan maupun penyusunan program pembangunan kawasan pesisir.
HATCH di Teluk Jor diharapkan menjadi ruang tumbuhnya kolaborasi, tempat masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga alam, mengembangkan ekonomi, dan menentukan masa depan wilayah pesisirnya.